Pustaka

Gerakan Literasi adalah Kerja Bersama

Oleh Ahmadi Pahlewi

SAYA akui minat baca diri sendiri masih sangat rendah. Untuk menyandang status anggota Tim Gerakan Literasi Daerah rasanya belum pantas sebagai pribadi yang dengan buku-pun belum begitu akrab.

            Tapi, saya mesti berjibaku bersama rekan-rekan satu tim untuk menyukseskan komitmen Bupati Lampung Barat mewujudkan Lampung Barat sebagai Kabupaten Literasi. Menyusun rencana aksi dan melaksanakannya keseluruh pelosok Bumi Beguwai Jejama. Kami kerja tim, keberhasilan program akan tercapai apabila saling percaya dan saling bekerja sama.

            Sudah hampir dua tahun setelah pencanangan Lampung Barat sebagai Kabupaten Literasi pertama di Provinsi Lampung, berdasarkan Peraturan Bupati No. 19 tahun 2018 tentang Gerakan Literasi Daerah.Kami sadari perlu banyak pembenahan terkait upaya mengenalkan literasi kepada masyarakat umum.

            Literasi bukan sekadar membaca dan menulis, begitu segelintir orang bersuara. Menurut mereka literasi mencakup kemampuan dan keterampilan individu dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.

            Namun bagi saya, sekarang kita lebih mengutamakan pada kemampuan membaca dan menulis. Karena dua hal ini merupakan kemampuan dasar yang mesti dimiliki oleh setiap orang.

            Bapak Bupati pada satu kesempatan berpesan, agar terus berkegiatan. Literasi adalah budaya. Dan, mengubah budaya butuh waktu yang sangat lama. Kerja kita tidak mudah. Tanam sekarang panen sekarang, mustahil. Tapi, Lampung Barat sudah memulai, itu pembeda kita dengan daerah lain.

            Tahun pertama merupakan tahap kampanye Tim GLD Kabupaten Lampung Barat.Organisasi sosial yang dipimpin Makcik Partinia Mabsus menyasar semua lapisan. Sudah hampir semua kecamatan kami kunjungi, membina lamban baca, dan menyalurkan donasi buku. Giat yang kami atur setiap bulan sekali, berkeliling ke titik-titik pegiat literasi hingga tingkat pekon.

            Lamban Baca adalah taman baca masyarakat dengan konsep kearifan lokal. Rumah tempat tinggal dijadikan tempat baca dengan koleksi buku berasal dari modal pribadi, donasi komunitas, perorangan, dan pemerintah daerah.

            Bersyukur sejak awal, komunitas literasi di Lampung Barat memang sudah aktif. Salah satunya Forum Literasi Lampung Barat (FLLB). Forum ini mengkoordinir Lamban Baca Beguai Jejama. FLLB patut kita apresiasi, tanpa henti terus merotasi buku ke semua lamban baca. Selanjutnya ada RSIA Bunda Liwa yang fokus pada perkembangan literasi di Lampung Barat. Donasi dana, buku, rak buku, dan kegiatan keliterasian selalu diutamakan oleh rumah sakit ini.

            Dan untuk saya, tetap dengan anggapan yang sama, belum layak menyandang gelar sebagai pegiat literasi. Saya belum memiliki waktu tetap membaca buku atau belum memiliki target menulis yang jelas setiap harinya. Hanya semangat untuk bersama-sama masyarakat meningkatkan minat baca dan tulis menjadi modal bergerak sampai hari ini.

Sejak 5 Maret 2018 saya menginisasi terbentuknya Komunitas Literasi Liwa. Walaupun belum berdampak banyak, saya terus berjalan. Awalnya juga berniat mendirikan lamban baca, tetapi seiring waktu dan setelah berkeliling ke banyak lamban baca, pertengahan 2019 lalu saya memutuskan jemput bola. Langsung mendekatkan buku kepada khalayak ramai. Membawa buku koleksi pribadi setiap dua minggu sekali. Kegiatan yang kami beri nama “lapak baca” ini tidak akan terlaksana tanpa dibantu oleh rekan-rekan sesama anggota Tim GLD.

            Minggu pagi, bertempat di Lapangan Indrapati Cakranegara Komplek Perkantoran Pemda, kami menggelar tikar dan menyediakan buku bacaan berbagai jenis. Mulai dari kumpulan cerpen, novel, komik, buku keagamaan, biografi, dan buku-buku karya penulis Lampung Barat.

            Lapak baca kini mulai dikenal, anak-anak usai berolah raga pagi sembari beristirahat mengambil buku yang menurut mereka menarik.Begitu juga dengan orang dewasa, perlahan mulai mengikuti aktivitas di lapak baca.

            Ada banyak pihak yang berperan pada lapak baca kami. Mulai dari Udo Z Karzi (penulis, jurnalis), Pun Dhoni (Sai Batin Marga Liwa, penulis), Paklunik Ali Rukman (penulis), dan Begiyama Fahmi Zaki (sahabat ketika kuliah). Mereka yang menjadi donator awal Komunitas Literasi Liwa, mendonasikan buku, sejumlah uang, dan terus meyakinkan saya bahwa kerja sosial akan menghadapi banyak tantangan.

            Terkait koleksi buku yang menjadi permasalahan hampir semua pengelola lamban baca. Diharapkan selain mengharapkan donasi dari satu pihak, kita mampu berinovasi mencari sumber-sumber lain. Menghubungi teman kerja, teman sekolah, teman kuliah hingga memaksimalkan media sosial sebagai media mencari donatur buku. Saya sudah mencoba cara ini, menggunakan semua jaringan yang ada, tanpa henti, dan tanpa malu.

Perlahan mengenalkan buku kepada masyarakat, jujur bukan pekerjaan yang gampang. Kondisi ini masih ditambah berbagai tantangan yang silih berganti menghampiri. 

Saya pernah hampir menyerah. Tapi, kita tak bisa berhenti. Kita terus…[]

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top