Pustaka

Bangunan Kecil itu pun Jadi Arena Baca Buku di Lingkunganku

Oleh Eliyah

PRODUK teknologi informasi canggih bernama telepon seluler dengan berbagai merek dan tipe kini terus berkembang pesat merasuki dunia maya. Barang ini kini berhasil menyita perhatian semua kalangan, tak terkecuali anak-anak.

Sebagian besar anak-anak hingga remaja saat ini telah menguasainya. Tidak sedikit anak-anak mulai lupa kewajibanya sebagai seorang pelajar, termasuk anakku sendiri. Mereka masing-masing asyik memanfaatkan ponsel android untuk bermain game, lainnya ketika pulang sekolah. Banyak orang tua mengaku kebingungan menghentikan kebiasaan anak mereka ini.

Kondisi ini memotivasi dan mendorong pikiranku untuk turut mencari solusi bagaimana cara mengatasinya, minimal mengurangi kebiasaan anak-anak menggunakan ponsel ini.

Aku mulai mencari cara bagaimana agar anak-anakku, termasuk anak-anak di lingkunganku memiliki aktivitas yang lebih bermanfaat, sehingga mampu mengurangi kebiasaan bermain game pada ponsel yang sudah menjadi pegangannya ketika pulang sekolah. Pada prinsipnya, ponsel memang memiliki sisi baiknya, tetapi juga mempunyai buruk, terutama bila menggunakanya tanpa mengenal waktu lagi.

Itulah yang terus mengganggu pikiranku sejak mengetahui banyak anak yang telah melek ponsel, tetapi tidak bisa mengatur waktunya lagi. Solusi akhirnya diketemukan ketika aku termotivasi dan terdorong oleh rencana Pemerintah Kabupaten Lampung Barat yang berencana untuk  melaksanakan Program Literasi.

Setelah aku pelajari apa dan bagaimana literasi, aku menjadi tertarik dan ide pun muncul ibarat gayung bersambut. Dengan bermodalkan beberapa buku bacaan yang sudah ada hasil koleksi yang sudah aku miliki, aku mulai merencanakan membuka Taman Membaca Masyarakat (TBM) secara pribadi, tetapi berlaku untuk umum. Rumahku sebagai tempatnya. Tujuanku, ingin agar anak-anak itu lebih menyukai membaca buku sebagai sumber ilmu ketimbang menghabiskan waktu hanya untuk bermain game di ponsel.

Awalnya buku yang aku miliki sangat terbatas. Mengingat lingkunganku juga terdiri berbagai suku dan agama, aku mencoba untuk mencari tambahan buku bacaan. Caranya aku meminta bantuan buku dari keluargaku di Palembang dan Surabaya. Akhirnya, buku bacaan dikirim dalam jumlah cukup banyak, tetapi sebagian besar adalah buku rohani Kristen. Oleh karena jumlahnya banyak, sebagian buku rohani itu aku sumbangkan ke tempat lainnya seperti gereja.

Buku cerita untuk umum yang aku miliki kala itu hanya ada 30-an judul. Sementara buku rohani sekitar 100-an judul. Dengan bermodalkan buku bacaan itu ditambah meja pendek sepanjang 2 meter dan selembar karpet, akhirnya aku pun mulai menata ruangan tamu rumahku untuk dijadikan sebagai tempat aktivitas anak-anak membaca.

Ruangan siap, sejak itu pula aku mulai mengarahkan anak-anakku untuk mengajak teman-temannya datang membaca di rumahku. Kejadian itu tepat di awal Agustus 2018 anak-anak mulai beraktivitas. Untuk menghilangkan rasa jenuh, aku menyediakan sarana bermain lainya seperti catur, congklak, buku tebak kata, teka-teki silang hingga puzzle.

Aktivitas anak-anak membaca sudah mulai berjalan. Akhirnya, aku pun memberanikan diri untuk berkoordinasi dengan Kepala Dinas Perpustakaan. Aku mengutarakan niatku untuk meminta bantuan tambahan buku bacaan. Namun, saat itu aku diminta membuat surat permintaan hibah buku. Sebagai syarat yang disertai  stempel yang isinya harus mencantumkan nama lamban baca, berikut struktur kepengurusannya.

Persyaratan ini lagi-lagi membuatku bingung karena apa yang menjadi syarat itu belum aku miliki. Aku mulai berpikir untuk pemberian nama TBM tersebut, termasuk struktur kepengurusannya. Oleh karena sifatnya milik pribadi tapi berlaku untuk umum, akhirnya dengan melibatkan sejumlah anak di lingkunganku maka jadilah struktur kepengurusannya itu.

Awalnya aku beri nama TBM Sukamaju sesuai lingkunganku. Tapi, sepertinya nama itu kurang menarik. Benar saja, ketika aku melaporkankan nama itu, ternyata ditertawakan oleh Kabid  Perpustakaan yang saat itu masih dijabat Bapak Hamdani Lubis. Menurut dia, nama itu jadul, kurang menarik karena kurang kekinian. Beliau menyarankan agar diganti dengan nama lain saja. Hanya sayangnya ketika diminta apa usulan nama yang bagus, beliau juga tidak memiliki ide/masukan dengan alasan beliau pun bingung mau memberi nama apa.

Alhasil, aku memberi nama TBM Efrata Liwa. Nama Efrata itu historisnya adalah penggabungan nama untuk mengingat sejarahku, di saat pertama kali menempuh pendidikan di bangku SMA. Waktu itu, pertama kali berpisah dengan kedua orang tuaku karena sekolahku jauh. Tempat tinggalku saat itu bernama Efata. Jadilah, Efrata karena lingkunganku berada di komplek gereja.

Nama telah ditetapkan, aku membuat surat permohonan bantuan hibah buku kepada Dinas Perpustakaan daerah. Kemudian aku berhasil membawa pulang sekitar sekitar 100  buku bacaan. Buku itu buku bacaan bekas, tetapi senang rasanya karena koleksi buku telah bertambah. Anak-anak terlihat antusias dan datang silih berganti.

Berapa hari kemudian, aku melihat sepertinya ada anak-anak yang merasa segan karena kurang bebas dan kurang nyaman bila sering keluar masuk di dalam rumah. Oleh karena itu, akupun mempersilakan mereka untuk membaca di luar/teras rumah dengan beralaskan tikar. Namun, sepertinya itu belumlah cukup.

Akupun mulai berpikir solusinya. Tidak mungkin setiap hari mereka akan menggelar tikar di teras rumah. Aku berkeinginan untuk membuat sebuah bangunan kecil menyerupai bangunan pos kamling di halaman untuk dijadikan sebagai tempat bagi anak-anak membaca.

Mendapat ide itu, aku pun berkonsultasi dengan Kadis Perpustakaan dan Kerarsipan Bapak Saripan Halim tentang solusinya. Beliau mendukung agar dibangun tempat khusus. Untuk materialnya, beliau lalu menyarankan agar mengajukan permintaan hibah bekas bangunan bongkaran milik Puskesmas yang memang saat itu sedang dibongkar untuk dibangun baru.

Mendapat saran tersebut dan atas persetujuan Kadis Perpustakaan, akup mencoba untuk menemui Kadis Kesehatan Bapak Paijo, yang ternyata juga menyambut baik dan menyerahkan ke bidangnya. Saat itu aku diminta untuk menunggu. Akan tetapi, setelah lama ditunggu-tunggu ternyata rencana itu tidak terealisasi karena material bekas bongkaran itu sudah tidak ada lagi. Aku sempat kecewa tapi aku tidak putus asa.

Sejak saat itu aku tidak lagi berharap akan bongkaran material untuk membuat bangunan itu. Aku akhirnya berupaya sendiri dan atas bantuan sang suami akhirnya bangunan itu jadi berdiri kokoh di halaman rumahku.

Buku bacaan itu akhirnya berhasil mendarat dan ditata rapi didalam bangunan kecil itu. Terhitung sejak awal Januari 2019, aktivitas membaca anak-anak di Lamban Baca Efrata Liwa mulai dialihkan di bangunan kecil itu. Sejak itu pula anak-anak setiap harinya datang silih berganti membaca. Saat  ramai, sebagian anak-anak menggelar tikar membaca diteras.

Kini, bangunan kecil itu telah menjadi arena membaca bagi anak-anak di lingkunganku. Bahkan, tidak hanya dari lingkunganku saja. Anak-anak yang datang banyak juga yang dari luar lingkungan. Ada yang datang menggunakan sepeda, ada yang diantar orang tuanya dan ada yang berjalan kaki.

Tidak sulit untuk mendapatkan lokasinya. Lamban Baca Efrata Liwa itu hanya berjarak tempuh 100 meter menelusuri Jalan Kelor dari arah lintas Liwa-Ranau, tepatnya di lingkungan Sukamaju, Kelurahan Way Mengaku, Kecamatan Balikbukit, Lampung Barat.

Bangunan kecil, tetapi tampilannya unik dan menarik membuat pengunjungnya lebih asyik. Anak-anak suka. Tempatnya kecil, tetapi nyaman dan manfaatnya ukup besar. Di dalamnya terdapat segudang ilmu yang bisa di dapatkan dari beraneka buku bacaan.

Ukurannya hanya 2 x 2,5 meter, tetapi bangunan ini mampu menampung belasan anak-anak usia remaja. Tempat ini sengaja dibuat untuk ajang nongkrong sambil membaca, berkreativitas yang mendidik, khususnya bagi anak-anak tanpa batasan waktu.

Suasana sekitar amat sejuk dengan halaman berlatar rumput hijau itu, kini telah menjadi taman baca sambil  bermain bagi sejumlah anak sekitar. Terdapat buku bacaan dari berbagai judul yang tersedia dan menarik untuk dibaca. Ada buku rohani muslim, buku rohani Kristen. Kemudian buku cerita, buku pelajaran, novel, cerpen, dan berbagai buku bacaan yang menarik lainnya. Selain itu, ada juga buku bacaan tentang kesehatan, pertanian, dan pengetahuan  lainnya.

Setiap beberapa hari, buku-buku tersebut diganti dengan buku yang berjudul lain dengan tujuan untuk menarik minat pembaca, sehingga anak-anak yang datang tidak merasa jenuh. Hingga saat ini telah tersedia sekitar 400-an judul buku yang dimiliki Lamban Baca Efrata Liwa. Namun buku-buku itu tidak serta-merta dikeluarkan secara serentak karena setiap harinya disediakan dengan bergantian, yaitu sekitar 25-40 judul/minggu. Khusus pembaca yang masih membutuhkan buku bacaan sebelumnya juga tetap dilayani.

Koleksi buku-buku itu, selain milik sendiri, juga ada yang diperoleh dari sumbangan keluarga, hibah Pemkab melalui Dinas Perpustakaan dan ada juga pinjaman dari tim Gerakan Literasi Daerah (sistem rolling buku). Setiap hari anak-anak bebas memilih buku mana yang disukainya untuk dibaca. Di tempat itu, juga tersedia beberapa judul majalah yang memotivasi kreativitas anak-anak agar anak-anak tidak merasa cepat bosan. Majalah dan berbagai buku bacaan yang di dalamnya terdapat teka-teki silang bagi anak-anak dan remaja. Kemudian, buku menggambar dan mewarnai bagi anak usia dini, buku cerita bergambar. Di situ juga disediakan alat tulis seperti pensil dan pewarna sehingga anak-anak juga bebas memilih untuk berkreativitas.

Anak-anak tidak hanya membaca,tetapi ada juga yang lebih memilih mengerjakan teka-teki. Ada juga yang memilih mengerjakan permainan puzzle, dan sebagainya. Jika anak-anak sudah mulai bosan dengan buku-buku itu, di tempat itu juga tersedia sejumlah permainan yang digemari anak-anak antara lain, catur, congklak, bulu tangkis, dan lain-lain. Tidak ada jaringan wifi dan tidak satu pun yang membawa ponsel karena mereka tahu tempat itu hanya untuk aktivitas membaca dan berkreasi. Tempat itu juga terkadang dijadikan anak-anak sebagai ajang berkumpul untuk mengerjakan tugas sekolah yang diberikan gurunya.

Untuk mendorong dan memotivasi semangat membaca bagi anak-anak, aku punmemberikan kejutan berupa 5 hadiah hiburan bagi mereka yang paling rajin berkunjung dan bagi yang rajin membawa teman baru. Namun, pemberian hadiah itu hanya aku lakukan selama 5 bulan pertama saja dengan tujuan agar anak-anak menjadi terbiasa. Selanjutnya, tidak ada lagi hadiah. Tapi, mereka sudah terbiasa datang sendiri setelah pulang sekolah, sehingga aktivitas membaca sudah berjalan dengan sendirinya.

Untuk buku bacaan yang aku dapat yang judulnya lebih dari satu, terkadang aku bagikan kepada anak yang datang dari jauh yang memang sangat membutuhkan bacaan. Akupun bangga bahwa Lamban Baca Efrata Liwa yang aku bangun telah menjadi gudang ilmu, tempat membaca bagi anak di lingkunganku. Aku bangga buku yang aku miliki telah mampu memotivasi semangat baca bagi generasi di lingkunganku.  Pada gilirannya, mereka pun terlihat jarang bermain game lagi. Sebab, selesai membaca, sebagian mereka pulang untuk pergi mengaji.

Harapanku semoga lamban baca yang aku dirikan dan buku-buku di dalamnya terus menjadi sumber inspirasi dan menambah ilmu bagi generasi di lingkunganku. Aku mau lamban bacaku mencapai tujuannya, yaitu untuk menambah ilmu bagi generasi di negeriku, khususnya di lingkungan sekitarku, sehingga kelak anak-anak itu semakin mampu mengurangi candu terhadap gadget. []

  • Pemenang Kedua Lomba Menulis Antara Aku, Buku, dan Lamban Baca yang diselenggarakan Tim Gerakan Literasi Daerah (GLD) Lampung Barat, 2020.
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top