Human

Siapa Pula Butuh Buku Sastra Lampung?

APALAH itu buku puisi dan prosa bahasa Lampung? Kata lainnya, orang itu bilang (tapi tidak ke saya, barangkali juga dalam hatinya??), ‘Saya tak butuh buku-buku puisi dan prosa itu, apatah lagi berbahasa Lampung.’
Barangkali! Saya hanya menduga-duga — bukan menuduh! — setelah sebuah percakapan dengan seorang ibu yang saya kira seorang dosen melalui medsos di penghujung tahun 2019 lalu.
Sebelumnya, saya memang mempromosikan lima buku sastra (berbahasa) Lampung yang terbit 2018 dan 2019.
Saya pikir ini ada kaitannya dengan promo saya itu ketika sebuah pesan masuk, “Assalamualaikum. Kalau mau order buku tersebut di mana dan berapa, Dik? Terima kasih.”
Dengan suka cita dan asa yang membuncah buku-buku yang saya tawarkan akan diborong, hehee…, saya membalas, “Waalaikum salam. Dg saya Ibu… WA: 08154009xxxx.”

Saya pun sertakan kembali gambar dan daftar harga buku:
~ Elly Dharmawanti. 2018. Sanjor Induh Kepira. Kumpulan Sajak. Bandar Lampung: Pustaka LaBRAK. Harga @Rp35.000.
~ Semacca Andanant. 2018. Lapah Kidah Sangu Bismillah: Bandung & Hiwang. Bandar Lampung: Pustaka LaBRAK. Harga @Rp35.000.
~ SW Teofani. 2019. Lawi Ibung. Kumpulan Cerita Buntak. Bandar Lampung: Pustaka LaBRAK. Harga @Rp40.000.
~ Udo Z Karzi. 2019. Lunik-Lunik Cabi Lunik: Cerita Buntak-Buntak Gawoh. Bandar Lampung: Pustaka LaBRAK. Harga Rp40.000.
~ ZA Mathikha Dewa. 2019. Muli Sikop sai Segok. Sang Himpun Sajak. Bandar Lampung: Pustaka LaBRAK. Harga Rp40.000.

Lalu saya tanya lagi, “Buku yang mana saja, Ibu?”
Beberapa saat si Ibu menjawab, “Bila ada buku yang memuat peri kehidupan adat Lampung dalam bahasa Lampung. Maksudnya, yang memuat rincian pelaksanaan adat Lampung Barat dalam suatu kegiatan adat dan sastra lisannya. Boleh info-info bersejarah terkait dengan peristiwa penting keluarga Lambar. Ini untuk keperluan referensi juga. Judul bukunya justru kami belum tahu.”
Membaca jawaban Si Ibu, saya langsung tepok jidat. Kirain beliyou mau beli buku. Ternyata cuma nanya-nanya saja.
Tapi, tak enak pula kalau menyahut tak sopan kepada si Ibu.
Saya bilang saja, “Oh, mohon maaf, Ibu. Kayaknya kami tidak punya buku dimaksud.?”
Masih ada jawaban si Ibu yang menanyakan salah satu judul buku. Saya kira cuma basi-basi dan karena itu, saya sahut, “Iya, Bu. Benar.”

Mahap Ibu, saya tak hendak mempermalu Ibu. Sebab, nama dan identitas Ibu saya rahasiakan. Cuma percakapan kita dalam bahasa campur-campur Lampung dan Indonesia, saya konstruksi ulang menjadi tulisan ini. Sekadar refleksi awal tahun buat saya sendiri dan paling tidak bagi mereka yang mencintai bahasa dan sastra Lampung.
Beginilah nasib buku sastra modern (bahasa) Lampung, baik berupa puisi (modern), cerbun (cerpen) maupun novel.
Api muneh? []


Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top