Human

Bahasa Lampung di Tengah Gempuran Modernisme dan Globalisasi

“WUI, TUNGGU! Kanah pai…”
“Geluk kidah!”
Mendengar dialek yang keluar dari seorang siswa SMP ini saat saya baru tiba di sebuah masjid di bilangan Labuandalam, Bandar Lampung, saya kok serasa mulang pekon. Jangan-jangan mereka ini sekampung dengan saya.
Penasaran, saya bertanya, “Aga dipa?”
“Aga mulang,” kata dia sambil mengenakan tali sepatunya.
“Niku jak ipa asal ni?”
“Jak Ngaras.”
“Oo…”
“Nyak mit yu, Pak.”
“Yu.”
Dia pun lari mengejar teman-temannya.
Tinggallah saya yang membenak, ‘Anak-anak itulah sesungguhnya pahlawan bahasa Lampung. Tanpa risih di tengah gempuran modernisme dan globalisasi, mereka tetap menggunakan bahasa ibu mereka dengan bangga.’
Semoga bahasa Lampung tetap hidup! []

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top