Human

Rancak Bana

LEBARAN-LEBARAN selalu mengingatkan saya pada kampung halaman. Lahir di tengah masyarakat petani kopi di Liwa, Lampung Barat, saya merasa betapa besarnya anugerah Sang Pencipta atas kesuburan tanah Bumi Sekala Brak ini.

Cerita tentang nasib baik dan nasib buruk petani kopi juga mewarnai keluarga kami turun-menurun bergenerasi-generasi puluhan tahun, bahkan ratusan tahun silam.

“Kopi inilah. Tak ada tanaman lain,” kata Abdul Hakim, tamong (kakek) saya almarhum.

Bagi Tamong Hakim, bertani itu ya berkebun kopi. Yang lain-lain seperti bersawah, bertanam sayuran dan buah-buahan hanyalah tanaman selingan sebelum menanam dan berkebun kopi.

Kopi itu andalan untuk hidup lebih layak, membangun rumah, menyekolahkan anak, dan mewujudkan mimpi-mimpi di masa depan.

Kengeyelan poyang yang diwarisi orang semacam Tamong Hakim dalam berkebun kopi ternyata tak pernah sia-sia. Ada kala harga kopi melonjak tinggi membuat petaninya memetik keuntungan berlipat ganda. Di tengah krisis moneter yang menyebabkan nilai rupiah merosot hingga Rp25.000 per Dollar AS pada tahun 1997-1998, para petani kopi Lampung Barat justru mendadak mendapat keuntungan besar karena harga kopi per kg mengikuti nilai kurs Dollar.

***

Tahun 1970-an hingga awal 1980-an sebelum saya urban ke Tanjungkarang adalah masa-masa di mana kehidupan kami lekat dengan kopi, mulai dari mempersiapkan lahan, menanam, merawat, dan memanen, termasuk menjemur, mengolah biji kopi sampai siap dijual atau dinikmati.

Saya ingat betul pada saat musim petik kopi, saya dan adik-adik tidak akan diberi jajan. Kalau mau, ya harus memetik kopi sendiri, mengangkut sendiri dari kebun, menjemur, mengolahnya menjadi biji kopi sampai dijual.

“Kalau mau baju Lebaran, cari sendiri, ngunduh kahwa (memetik kopi) sendiri. Dijual untuk beli baju lebaran,” kata Bak (ayah) yang saya ingat.

Kalau tidak sedang musim kopi, saya dan adik-adik tetap diwajibkan ke ladang, kebun atau sawah membantu mereka.

Begitulah menjelang Lebaran di bulan Ramadan di saat uang hasil penjualan kopi sudah terkumpul, kami anak-anak diajak Bak atau Mak ke Pekan Selasa (pasar setiap hari Selasa) tak jauh dari rumah. Di pekan ini, dijual berbagai kebutuhan, termasuk pakaian Lebaran.

Berjejer pedagang pakaian memenuhi lapak dan kios. Sementara calon pembeli memenuhi gang-gang di antara kios dan lapak.

Setiap pedagang bersaing merebut hati calon pembelinya. Harus pintar-pintar berbicara dan merayu konsumen.

“Ayu… Ayu… dijual… diobral murah… Yang jauh mendekat, yang dekat merapat… Ini model terbaru… Cocok untuk uyung… Cantik buat upik…” Dst.

Bahasa di pasar tercampur antara bahasa Indonesia dan bahasa Lampung.

Terdengar teriakkan, “Rancak bana” dari penjual pakaian yang memang mayoritas beretnis Minang.

Entah benar entah tidak, konon, ada peristiwa orang dari pekon yang sudah mencoba-coba dan mengepas-paskan gaun malah batal membeli hanya karena penjualnya bilang, “Amboi, rancak bana!”

Orang yang mau beli dan tampak antusias menjadi kehilangan minat. Sambil pergi, si ibu yang mengajak anak-anaknya mencari pakaian, berkata, “Ya, radu. Merancak, ani sai ngejual. Ija neram nyepok bareh (Ya, sudah. Kependekan, kata yang jual. Sini kita cari yang lain.”

Induh, gaun helau, bang tiucakko ‘rancak’ kidah. (Entah, gaun bagus, kok dibilang kependekan). Hahaa…

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top