Cerita Pendek

Jantung Kapten Cook

Cocoterra (1), Februari 1780

Yang terhormat Kapten,

sejak Teluk Kealakekua, kami telah berlayar melewati Selat Bering, berlabuh di Kamchatka, dan singgah di Macau. Kini HMS Resolution dan HMS Discovery bersandar di pulau kecil di Selat Sunda.

Pulau yang sungguh elok. Di tengahnya, gunung berdiri menjulang, dikelilingi pokok-pokok kelapa dan hutan bakau. Di satu sisi gunung terdapat dua mata air: air tawar dan air panas. Karena suburnya pohon kelapa, John menamakan pulau ini Cocoterra –Tanah Kelapa.

Penduduk Cocoterra ramah dan bersahabat. Bahkan mereka menolong kami menyiapkan persediaan air untuk pelayaran selanjutnya. Kebanyakan penduduk berumah di ujung kaki Sumatra. Mereka datang hanya untuk mengambil kelapa, memancing dan bercocok-tanam lada.

Dan kau tak perlu cemas, Kapten. Meski pulau ini tenang, kami tetap berjaga-jaga. Belanda kerap berpatroli dan terus berusaha menguasai selat ini. Setiap pagi dan sore, John mendaki gunung dan melihat sekitar melalui teropongnya. Kapal-kapal Belanda dan Perancis tampak nun jauh di horison –termasuk Sphinx dan Annibal milik Laksamana Pierre de Suffren.

Tapi sungguh, jangan cemas, Kapten. Kami berjanji menjaga Resolution. Kami paham betapa besar cintamu padanya. Kau bilang, sungguh nestapa seorang kapten kala kapalnya rusak dan tak mampu lagi berlayar bersama. Tak akan lagi kau biarkan hal itu terjadi. Kau tak ingin lagi merasakan kehilangan yang sedemikian, seperti ketika kau harus meninggalkan HMS Endeavour. Nahkoda dan kapalnya, katamu, serupa jiwa dan raga. Jantung dan tubuh.

Setelah apa yang terjadi di Teluk Kealakekua, banyak awak yang patah semangat. Selesai upacara penguburan, kami tak banyak bicara. Hanya bekerja dan menarik diri ke kabin masing-masing. Aku pun tak ingin menulis. Memang benar luka di pundak menghalangiku menulis, namun duka di hati ternyata memerlukan waktu lebih lama untuk pulih. Baru kali ini, tepat setahun sejak Teluk Kealakekua, aku membuka jurnalku.

Cocoterra seperti memberi rasa aman dan ketenangan untuk aku kembali menulis.

Hari sudah malam. Aku duduk di tepi haluan Resolution. Angin darat bertiup sepoi-sepoi. Cocoterra, juga laut, terlihat pekat. Hanya bintang-bintang bersinar terang. Kerlip mereka terserak di permukaan laut.

Di lautan luas, di bawah kerlip bintang-bintang, beristirahatlah engkau dalam damai, Kapten …

Kapten yang telah mengajari kami cara membaca bintang. Yang telah membuka jalan ke dunia baru. Kapten James Cook.

Teluk Kealakekua, 14 Februari 1779

Hari-hari yang payah untuk awak kapal Resolution dan Discovery. Dua minggu lalu mereka dihantam badai dan tiang utama Resolution patah dua. Mereka harus kembali ke Teluk Kealakekua.

Prajurit Samuel Norman duduk menukuk di geladak. Tubuhnya yang tinggi membungkuk, menghadapi jurnalnya. Di hari Valentine ini, ia menulis surat untuk orang-orang terkasih, nun jauh di Inggris sana. Tapi suara gaduh dari buritan mengusik keasikannya. Samuel bangkit dan gegas mencari tahu apa yang terjadi.

Penduduk Kealakekua mencuri sekoci Resolution!

Kapten Cook tampak kesal dan gelisah. Kegelisahan yang serupa saat Endeavour menabrak karang di perairan Australia, dua tahun silam. Tujuh minggu mereka terlambat dari jadwal semula demi memperbaiki Endeavour. Tapi bukan keterlambatan yang dicemaskan Kapten. Ia mencemaskan Endeavour –yang telah mengantarkannya menuju dunia baru; yang tiada takut melalui samudra-samudra tanpa peta dan setia melindungi dari hujan, badai dan serangan bajak laut. Endeavour adalah tempat berlindung ketika hampir semua kru terkena malaria di Batavia.

Tapi di pelayaran kedua, Kapten Cook terpaksa meninggalkan Endeavour dan berlayar bersama Resolution. Ia harus memulai lagi, mengenal seluk-beluk kapal yang baru, memahami karakternya, setiap gores tiang dan pancangnya.

Meski Endeavour tak dilupakannya, mudah bagi Kapten Cook untuk jatuh hati pada Resolution. Resolution yang megah, dihiasi dengan tiang-tiang kayu tinggi dan layar membentang lebar, ukiran kayu indah dan gagang-gagang pintu kuningan yang cemerlang. Tak terhingga banyaknya pujian dilontarkan Kapten padanya. Dan kini, di pelayaran ketiga, setelah badai merusak tiang utama, ada yang berani mencuri bagian dari Resolution!

Kapten Cook menjejak tangga Resolution dan turun ke daratan. James, Theophilus, Thomas, John, Joseph dan Samuel ikut serta. Penduduk Kealakekua menolak tuduhan pencurian. Tapi Kapten tetap berusaha menyandera Kalani’opu’u, kepala suku mereka, sebagai jaminan dikembalikannya sekoci.

Perkelahian tak bisa dielakkan. Belati dikibaskan. Peluru ditembakkan dari senapan-senapan. Banyak penduduk yang gugur. James, Theophilus, Thomas dan John meregang nyawa. Samuel dan Joseph terluka parah. Meski persenjataan mereka lebih modern, jumlah penduduk jauh melebihi mereka.

“Mundur!” Kapten memberi komando. “Kembali ke kapal!”

Kapten mencoba menahan serbuan penduduk hingga kru yang tersisa memanjat Resolution dan Discovery. Tapi ia tidak mampu menyelamatkan diri. Di tepi Teluk Kealakekua, di sisi Resolution, di hari kasih sayang, Kapten Cook tewas ditikam belati, tepat di jantungnya.

Cocoterra, Februari 1780

Yang terhormat Kapten,

pagi ini hal aneh terjadi. Seorang penduduk mendatangi kami. Komunikasi dengan penduduk ini cukup sulit. Ia berbicara dalam bahasa sukunya. Untuk memahami apa yang ia sampaikan, kami perlu mengaitkan satu-dua kata Melayu, dan menebak-nebak gerak tubuh juga coretan gambarnya pada pasir pantai.

Namanya Bhrigu. Ia datang untuk mencari lelaki yang kerap dilihatnya berdiri di haluan Resolution. Lelaki itu, katanya, datang ke mimpinya dan memperingati tentang sebuah musibah besar: bencana serupa yang ditulis dalam kitab raja-raja, tentang gunung purba yang amarahnya telah memisahkan Sumatra dan Jawa.

Joseph mengajak Bhrigu naik ke Resolution. Tapi tak juga ia temukan lelaki yang dicarinya. Bhrigu hampir menyerah ketika mereka melewati kabin utama. Ia memekik senang. Melalui pintu kabin yang terbuka, ia menunjuk lukisan di atas meja. Seorang lelaki berseragam lengkap, berambut kelabu dan berwajah tegas. Sebuah potret dirimu, Kapten.

Joseph meyakinkan Bhrigu kalau pengelihatannya telah mengkhianati ingatannya sendiri. Namun Bhrigu bersikukuh: benar engkaulah yang kerap berdiri di haluan dan datang ke dalam mimpinya. Ini membuat seluruh kru menjadi gelisah dan tidak senang. Joseph pun menjadi marah. Ia berteriak dan mengusir Bhrigu, membuat pemuda itu meninggalkan Resolution dengan ketakutan.

Saat Bhrigu lari memasuki deretan pokok bakau, John berlari keluar. Wajahnya seputih kain layar. Digenggamnya erat teropong, dan dengan terengah-engah, ia menunjuk ke arah laut.

“Lihat! Di sana!”

Kami mengira ada ancaman dari kapal lain. Beberapa prajurit bersiap di dekat meriam, sementara yang lain meraih senapan. Tapi tak tampak satu pun kapal di kaki langit. Hanya laut biru membentang jauh.

Ternyata John bukan menunjuk ke horison, melainkan pada laut dan ombak yang dekat. Sebuah bejana kayu mengapung terayun-ayun, lalu terhempas ke sisi Resolution, mengetuk-ngetuk pelan.

Kami tercengang. Beberapa kru mampu menutup mulut, tapi banyak yang tak sanggup menahan pekik kaget yang terlanjur terlompat.

Kami telah mengucapkan perpisahan padamu, Kapten. Tak jauh dari Teluk Kealakekua, kami serahkan jantungmu pada samudra. Tapi nyatanya samudra juga yang kembali mempertemukan kita …

Sepeninggalanmu, Kapten Clerke mengambil alih kemudi Resolution. Tapi tidak untuk waktu yang lama. Batuknya makin menjadi dan ia kerap muntah darah. Setelah berhasil melalui Selat Bering, Kapten Clerke meninggalkan kami pula.

Seperti juga James, Theophilus, Thomas dan John, kami melakukan upacara penguburan di laut untuk Kapten Clerke. Kami bungkus jasad Kapten Clerke dengan kain layar dan menyerahkannya pada samudra.

Tapi kami tidak mampu melakukan hal yang sama padamu, Kapten.

Maafkan kami …

Penduduk Kealakekua menyandera jasadmu. Perwakilan Kalani’opu’u hanya menyerahkan pada kami sisa-sisa organ bagian dalam tubuhmu, termasuk jantungmu. Tak terbayang apa yang telah mereka perbuat pada jasadmu!

Kami bersihkan jantungmu dan menyimpannya di dalam sebuah bejana kayu berukir indah. Kami tembakkan senapan, juga meriam, sebagai penghormatan terakhir padamu. Kami tundukkan kepala dalam doa. Kami kibarkan Union Jack di tengah tiang tertinggi Resolution.

Lalu, pada samudra, kami serahkan bejana kayu dan jantungmu yang terluka.

Untuk apa yang telah mereka lakukan padamu: kami hujankan tembakan dari senapan-senapan. Kami tembakkan meriam ke kampung-kampung mereka. Kami tinggalkan Teluk Kealakekua dalam pekik ketakutan penduduk dan jilatan kobaran api.

Kami telah balaskan dendammu, Kapten …

Dan kini, kami gali lubang yang dalam di Cocoterra. Kami kubur bejana kayu di sisi gunung, di tepi hutan bakau. Telah kami tancapkan salib kayu dan bacakan Al-Kitab untukmu.

‘Penebusku hidup dan akhirnya Ia akan bangkit di atas debu. Juga sesudah kulit tubuhku sangat rusak, tanpa dagingku pun, aku akan melihat Allah …’

Karenanya, Kapten, di Cocoterra, di Selat Sunda, di bawah kerlip bintang-bintang, beristirahatlah engkau dalam damai.

Epilog

HMS Resolution dan kapal pengiringnya –HMS Discovery, pulang dengan selamat ke Inggris Raya di akhir 1780. Dalam pelayaran selanjutnya ke Hindia Timur, Resolution jatuh ke tangan armada Perancis di bawah komando Laksamana de Suffren.

Selesai pertempuran Negapatam, Resolution bertolak dari Manila dan menghilang. Menurut Laksamana de Suffren, posisi terakhir Resolution adalah di Selat Sunda. 

Mendengar misteri hilangnya Resolution ini, Prajurit Samuel Norman menulis catatan di jurnalnya:

Mungkin memang benar adanya, tidak ada yang bisa memisahkan jiwa dengan raga. Jantung dengan tubuh. Kapten dengan kapalnya. Sekarang, nun jauh di Selat Sunda, kalian telah kembali bersama.

Di Selat Sunda, di bawah kerlip bintang-bintang, beristirahatlah kalian dalam damai.

Kapten James Cook. HMS Resolution.

Lancaster, Juli 2019

 (1) Cocoterra: Nama yang diberikan oleh John Ledyard, awak pelayaran ketiga Kapten Cook, untuk Krakatau, pada tahun 1780. 


Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top